Disela-sela ramainya berita evakuasi korban pesawat Sukhoi SJ100 yang intens diliput dan disiarkan berbagai media, muncullah sebuah berita yang melaporkan bahwa POLRI tidak memberikan izin konser penyanyi kondang Lady Gaga. Kabarnya Polri mendapatkan masukan dari beberapa ormas, partai, DPR, dan berbagai pihak lain mengenai konser Lady Gaga. Padahal status asli menurut keterangan pihak POLRI, POLRI masih mengevaluasi perizinan konser Lady Gaga.
Kalangan sepilis (sekuler, pluralis, dan liberalis) kontan geram dengan evaluasi itu (mereka membacanya “pelarangan”). Mereka masih gemas dan marah akibat gagalnya ajang2 diskusi ilmiah bersama Irshad Manji di berbagai tempat, khususnya di Komunitas Salihara yang dibubarkan polisi. Mereka berpendapat bahwa polisi takut dengan ancaman ormas sehingga alih2 melindungi komunitas Salihara yang merasa didzalimi, malah membubarkan acara tersebut.
Keterangan dari Polri mengungkapkan bahwa komunitas Salihara tidak memberitahukan acaranya ke pihak polsek setempat, yaitu Polsek Pasar Minggu. Akibatnya polsek Pasar Minggu tidak memiliki persiapan untuk mengamankan acara tersebut. Untuk mencegah hal2 yang tidak diinginkan, polsek Pasar Minggu membubarkan acara tersebut.
Siapa sih Lady Gaga?
Yang saya tahu dia seorang musisi. Namun bukan musisi biasa. Ia kerap membuat kehebohan dan mencari sensasi. Bagi orang seni, ia dianggap kreatif, out of the box. Namun bagi masyarakat agamis, ia kerap membuat kehebohan dengan merendahkan agama tertentu dalam karya2nya, baik lagu, vidklip, aksi panggung, maupun acara2 lain.
Lady Gaga juga diketahui mendukung kaum Gay, Lesbi, dll yang menjadi musuh berbagai agama. Bahkan Lady Gaga dianggap utusan kaum Illuminati di dunia hiburan (yang belum tahu Illuminati, mending baca2 buku atau internet mengenainya. Banyak koq).
Tak heran semua tindak tanduknya senantiasa menimbulkan kontroversi. Namun ia begitu dicintai oleh Little Monster, begitu para fans Lady Gaga menamakan kelompoknya.Lady Gaga pun didaulat sebagai Mother Monster. Little Monster menganggap sang Ibu (hmm konsep Illuminati nih) sangat2 kreatif, berani, mampu mendobrak segala kelaziman, hingga mendukung kaum marginal seperti kaum Gay dan Lesbi.
Lady Gaga dan Pembodohan Masyarakat
Ketika pihak promotor membuka counter pembelian tiket konser di suatu mal di Jakarta Selatan, saya melihat di televisi bahwa banyak Little Monster Indonesia berdandan ala Lady Gaga. Dengan atribut yang aneh2, mereka berupaya meniru induk mereka. Beberapa yang diwawancarai juga hapal lagu2nya, namun entah apakah mereka mengerti lagu itu?
Yang saya percaya, Lady Gaga, sebagaimana musisi2 lain, pasti membawakan suatu nilai yang ia yakini. Nilai2 itulah yang mereka sebarkan kepada fans2 mereka melalui lagu, vidklip, konser, dll. Apa yang dibawa Lady Gaga? Salah satu yang jelas adalah bentuk dukungan terhadap gay dan lesbian, freesex, dll. Saya koq punya keyakinan bahwa dalam konser2nya, ia akan sampaikan nilai2nya, baik dalam bentuk lirik, video, koreografi, sampai ke kostum2nya. Saya pun tak yakin Lady Gaga mau disetir orang lain dalam hal kostum, memakai batiklah, atau kostum adatlah. Toh kalaupun mau, pasti nggak jauh beda dengan konser2 sebelumnya di luar negeri.
Seorang Giring, vokalis Nidji berkata bahwa Lady Gaga ke Indonesia cuma pengen nyanyi (sumber). Weleh2, naif sekali statement Giring. Sebagai musisi, seharusnya Giring tahu bahwa tidak sesederhana itu Lady Gaga menggelar konser, bernyanyi, lalu pulang. Mungkin Giring tidak melihat konten konsernya, muatan apa yang dibawa.
Statement2 para artis2 lainnya pun tampak seperti pembodohan masyarakat. Rakyat, khususnya para anak muda, pemikirannya digiring ke hal yang terlalu sempit. Para aktor intelektualnya pun membenturkan antar kelompok di masyarakat sehingga yang saling menghujat dan menyalahkan.
Semoga saya bisa berharap agar kelompok masyarakat mewaspadai politik adu domba ini demi kepentingan para pemilik modal. Memang ada kejanggalan dari pihak promotor.
Izin belum keluar, promotor mengaku sudah menjual habis tiket konser lebih dari 52 ribu lembar. Sebagiannya dibeli oleh Little Monster mancanegara, mungkin negara2 seperti Singapura, Australia, Malaysia, atau Thailand. Dengan pede tingkat tinggi, promotor akhirnya mengajukan izin konser. Ketika izin ada gejala ditolak (ingat, Polri masih mengevaluasi), pihak promotor mencoba membenturkan beberapa kelompok masyarakat. Tujuannya tak lain tak bukan agar dunia tahu ada masalah di Indonesia mengenai perbedaan, dan akhirnya dunia internasional mendorong Indonesia untuk memberikan izin konser agar nama Indonesia dipandang baik. Selain itu, atas alasan pemasukan devisa negara, Polri juga didesak untuk mengeluarkan perizinannya. Media internasional ini pun menyoroti hal ini.
Saya melihat ada usaha sistematis untuk menggolkan rencana ini. Penduduk Indonesia yang besar dan jumlah pemuda/I yang besar pula, menjadi pasar yang sangat gemuk untuk sosialisasi nilai2 yang dibawa Lady Gaga and the gank. So waspada yoooo…


